
Wajah lama Bima ada di Donggo. Yohanes Albert mengatakan bahwa orang orang yang mendiami pegunungan di sebelah tenggara dan barat teluk Bima adalah penduduk asli Bima. Itu hasil penelitiannya tahun 1901 hingga 1910. Namun akibat perkawinan campuran dan proses pembauran yang terus menerus terjadi saat ini, telah terjadi banyak perubahan. Sudah tidak bisa lagi dipisahkan mana asli mana campuran. Semua telah menjadi Mbojo.

Kekayaan Donggo tidak hanya dalam balutan keindahan alamnya. Namun yang menggugah perhatian para peneliti adalah kekayaan khasanah budaya dan tradisinya. Kekayaan itu dapat dilihat dari sebaran tradisi tutur dan sastra lisannya. Beberapa yang masih tersisa adalah Inambaru, Kalero, Mpisi, Sasero. Kasaro, Ncala, Lanca, Tari Kuuwa dan Dewa Kidi yang sudah langka Sedangkan kekayaan cerita rakyatnya antara lain Dapidore, La Lindu, Ponda nda, La Hila dan beberapa kisah tutur lainnya.
Donggo juga kaya akan situs sejarah seperti Wadu Tunti,Wadu Nocu, wadu pa a, makam yang oleh warga disebut makam Gajah Mada dan sejumlah situs lainnya seperti Uma Leme dan Pesanggrahan Donggo yang merupakan bangunan peninggalan kolonial.
Donggo juga masih punya tradisi perjodohan sejak kecil yang disebut Cepe Kaneve, tradisi Raju serta pakaian adat yang serba hitam dengan kain tenunan khas dari pewarna alami.
Penuis : Alan Malingi
Post a Comment